Ketahui Segmentasi Bisnis Peternakan Ayam Broiler

 

MitraPeternakan.com – Segmen pasar ayam broiler berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, tergantung pola konsumsi masyarakatnya.  Oleh karna itu, segmentasi bisnis ayam broiler pun bermunculan.

Penguasaan terhadap segmen pasar ini akan mampu meningkatkan keuntungan peternak dan meminimalisis kerugian yang mungkin timbul akibat mekanisme pasar.  Hal tersebut karena peternak (terutama mandiri) akan berproduksi ayam berdasarkan kapasitas, harga, dan permintaan pasar.

Adapun beberapa segmentasi pasar yang menjadi acuan peternakan ayam broiler, sebagai berikut :segmentasi-bisnis-ayam-broiler-800x600

Segmen Ayam Besar

Segmen ayam besar adalah segmen ayam broiler dengan ukuran lebih dari 1,8 kg per ekor.  Dagingnya akan diolah industri menjadi chicken nugget, sosis, dan katsu.  Selain itu, tukang-tukang sate juga lebih menyukai ayam karena dagingnya yang tebal sehngga mudah di-fillet dan dipotong-potong.

Keuntungan yang didapat peternak bisa maksimal jika harga dan performance ayamnya bagus.  Namun, kerugian yang ditimbulkan juga berpotensi besar jika harga maupun performance ayam kurang baik.

Segmen ayam sedang

Ukuran ayam yang masuk dalam segmen ayam sedang adalah 1,4-1,8 kg per ekor.  Ukuran ini merupakan ukuran yang banyak dibutuhkan oleh rumah potong unggas untuk keperluan restoran cepat saji, seperti CFC, McDonald, KFC, pedagang-pedagang fried chicken, dan warung-warung makan lainnya.

Segmen Ayam Kecil

Segmen ayam kecil adalah segemen ayam broiler dengan ukuran panen 0,8 – 1,4 kg per ekor.  Waktu panen sangat singkat, mulai umur 21-29 hari, tergantung pertumbuhan ayam.  Ukuran ayam ini banyak dibutuhkan untuk pedagang kaki lima (ayam bakar atau ayam goreng), warung-warung padang, maupun bisnis katering)

Meskipun keuntungan per ekor lebih kecil, waktu pemeliharaannya singkat dan resikonya relatif lebih rendah.  Jika diakumulasikan dalam setahun, keuntungannya tidak kalah dengan panen ayam ukuran besar atau ayam ukuran sedang.  Selain itu, kapasitas kandang bisa 2 kali lebih banyak dari panen ayam besar atau 1,5 kali dari panen ukuran sedang.

Segmen Ayam torolok

Ayam torolok adalah ayam dengan ukuran ekstrim dibawah bobot ayam normal pada umur yang sama (30-40% dibawah bobot rata-rata).  Ayam torolok umumnya memiliki ukuran kurang dari 0,7 kg per ekor.  Ayam torolok tentunya tidak diinginkan oleh peternak karena mengakibatkan efisiensi pakan (FCR) menjadi buruk.  Ayam torolok harus dipanen lebih dahulu karena hanya akan menghambur-hamburkan pakan jika dibesarkan.

Meskipun merugikan, peternak tetap harus mengenal segmen ini.  Kasus torolok hampir pasti akan dialami oleh peternak, baik yang disebabkan oleh kualitas DOC dan pakan yang jelek maupun manajemen pemeliharaan yang kurang baik.  Segmen ini harus diketahui untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Jangan Sepelekan Masalah Ini, Karna akan Berujung pada Gagalnya Pemeliharaan Ayam Broiler

MitraPeternakan.com – Hari pertama pemeliharaan merupakan fase starter sekaligus fase yang sangat menentukan hasil pemeliharaan difase pemeliharaan selanjutnya.

Hari pertama pemeliharaan ayam broiler menjadi kunci utama yang akan menjadi dasar atau pijakan yang kuat dalam melakukan budidaya ayam broiler. Jika, kita gagal pada fase ini kemungkinan besar akan gagal difase berikutnya.peralatan-kandang-ayam-broiler

Ya, fase kritis ini sering kita sepelekan. Padahal ini adalah masalah krusial jika kita tidak segera memperbaikinya.

Mari kita simak beberapa hal dibawah ini yang harus segera kita atasi agar tak berpengaruh di fase pemeliharaan selanjutnya.

Luas Brooder Guard Kurang. Atasi segera, dengan melebarkan lingkaran sampai berdiameter 4,5 m. Jika kurang, seng pelingkar ditambahkan.

Jarak antara brooder guard terlalu dekat atau berhimpitan.  Atasi segera, dengan menggeser minimal jarak antara lingkaran 1 m.

Sambungan brooder guard tidak berhadapan.  Atas segera dengan menggeser agar berhadapan.

Tempat Minum dan Tempat Pakan Kurang.  Atasi segera, dengan menambahkan tempat minum dimana jumlah minimumnya 8 set per lingkaran atau per 500 ekor dan tempat pakan baby chick 12 set per lingkaran.

Pemanas Gas Brooder terlalu rendah atau terlalu tinggi.  Atas segera, dengan mensetting tinggi 1,2 (120 cm)

Pemanas Gas Brooder Tak Bisa diatur naik atau turun.  Atas segera, dengan mengganti gantungan pemanas yang mudah dinaikkan dan diturunkan dari tempat dimana dia digantung.

Sambungan selang Gas bocor, kurang sempurna.  Atasi segera, dengan memeriksa klem, lalu kencangkan atau tee pemanas diganti.

Lampu tidak menyala, menyala tapi kurang sempurna, atau letaknya tidak ditengah.  Atasi segera, dengan memperbaiki, lalu ganti bohlam atas tambahkan.  Minimal 2 bohlam dalam satu brooder guard.  Tempatkan bohlam disamping dari pemanas dengan jarak 0,5 m.

Tirai dalam tidak dibuka pada siang hari saat suhu diatas 32C.  Atasi segera, dengan membuka tirai dalam.  Jika masih panas, buka sedikit tirai atas pada sisi kandang yang tidak terkena angin langsung.

Penyetelan Gas pada regulator terlalu tinggi, padahal masih sore.  Penyebabnya, gas lupa dikecilkan.  Atas segera, dengan menyetel sesuai dengan kebutuhan suhu dari ayam.

Pemberian air minum terlalu banyak sehingga tidak cepat habis.  Kurangi pemberian air.  Dosis normal 10-15 l per 1000 ekor.

Pemberian pakan terlambat, kosong, atau terlalu penuh.  target atau standar makan tidak tercapai.  Atasi segera dengan pemberian pakan tiap 3 jam sekali (6-9 kali per hari).  Berikan secukupnya pada baby chick feeder, agar pakan segar selalu tersedia.

Ayam tidak diseleksi, masih banyak yang kecil, lemah, dan cacat.  Atasi segera dengan melakukan seleksi, lalu afkir atau potong.  Jika ragu, bisa dikumpulkan dalam satu brooder guard khusus dan berikan pemanas.

Setelah mengetahui hal tersebut, dan itu terjadi pada kandang Anda sebaiknya segera atasi.  Agar ayam Anda bisa hidup dengan nyaman didalam brooding.

Semoga bermanfaat.

 

 

Hal Inilah yang dapat mengurangi Keuntungan Beternak

MitraPeternakan.Com – Benar adanya judul diatas, bahwa jika Anda mengabaikan hal-hal berikut ini dalam periode pemeliharaan ayam broiler Anda, bisa dipastikan ini dapat mengurangi keuntungan Anda.

peralatan kandang ayam broiler komplit

Berikut hal-hal yang dapat mengurangi keuntungan tiap periode pemeliharaan ayam broiler :

Jumlah Ayam yang dipelihara Per Satuan Luas

Adanya batas secara ekonomis, dimana pada jumlah tertentu per satuan luas, broiler akan memberikan produksi yang menguntungkan.  Terlalu sedikit ayam broiler yang dipelihara akan merugikan, jika ditinjau dari ruang yang dapat digunakan, sedangkan pemeliharaan yang terlalu banyak akan mengakibatkan lingkungan yang kurang nyaman.

Terbuangnya Pakan, karena :

  1. Coccy, laksanakan pemeriksaan yang memadai terhadap adanya coocy selama pemeliharaan, bila perlu berikan obat coccy.
  2. Tempat Pakan/minum, peralatan yang rusak segera perbaiki dan selalu sesuaikan ketinggian dengan pertumbuhan broiler.
  3. Cara pemberian pakan diusahakan tidak tercecer/tumpah.

Kontrol Suhu Udara 

Suhu udara yang rendah pada msa Brooding akan mengakibatkan berat saat panen lebih rendah.  Suhu udara yang dingin, menyebabkan ayam mengkonsumsi pakan secara berlebihan untuk mempertahankan suhu tubuh.  Suhu tinggi akan menurunkan konsumsi pakan dan kecepatan pertumbuhan.

Ventilasi Buruk

Kondisi litter dan pergantin udara yang kurang akan meningkatkan resiko penyakit pernafasan.

Perlakuan Ayam Mati

Merupakan sumber penyakit dan harus segera dikeluarkan, serta dikubur/dibakar jauh dari lokasi kandang, pengambilan ayam mati dilakukan minimal 2 kali sehari dan dilakukan sesering mungkin, jika ada kasus penyakit.

Timbulnya Penyakit

Dapat dicegah dengan pembersiha/sanitasi dan program desinfeksi kandang, serta vaksinasi sesuai yang telah ditentukan.

Pengeluaran ayam-ayam jelek

Ayam yang menunjukkan tanda-tanda sakit, kerdil dan hal negatif, merupakan sumber penyakit yang dapat menulari kelompok yang sehat, untuk itu perlu diperiksa secara rutin oleh yang berkompeten dan jika perlu dikeluarkan dari kandang untuk dimusnahkan.

Pengawasan Yang Kurang Saat Panen

Melakukan pengawasan saat pelaksanaan panen untuk mencegah kerugian karena pencurian atau tata cara pemanenan yang sembrono.

Petugas yang berkompeten :

Co Farm :
  • Kepala Farm
  • Teknis Produksi
  • Pengawas Flock
Mitra : Sistim MF
  • Petugas Timbang
  • Petugas Lapangan
Sistim Kontrak Plasma

Penurunan Kualitas

Penurunan kualitas dapat dicegah dengan Tatalaksana yang benar selama pemeliharaan dan penanganan saat panen, sehingga kerugian dapat dihindarkan.

Percobaan yang tidak perlu

Hati-hati dengan jumlah percobaan yang dilakukan pada saat yang bersamaan.  Bila melakukan percobaan harus sepengetahuan Kepala Wilayah.

Itulah hal-hal yang dapat mengurangi keuntungan tiap periode pemeliharaan ayam broiler Anda.

Semoga bermanfaat.  Anda tak perlu meminta izin untuk klik tombol SHARE dibawah.  Lakukan saja, jika dirasa informasi ini bermanfaat.

Perbedaan Tempat minum otomatis kw dan super

Salam dari Mitra Peternakan, yang dapat melayani Anda menghadirkan Produk Peralatan kandang langsung dari Produsennya.

Pentingnya Kontrol Suhu dan Kelembaban Pada Pemeliharaan Ayam Broiler

ThermoHygrometer suhu dan kelembaban ayam broilerBerbicara tentang manajemen ayam tujuan utamanya adalah memberikan kenyamanan pada ayam yang dipelihara. Jika, ayam Anda nyaman tentu akan melakukan aktivitas dengan normal. Seperti saat mengonsumsi pakan dan minum, terlihat normal dan ayam akan makan dan minum sesuai kebutuhannya. Secara otomatis produktivitas ayam akan optimal dan Peternak akan menghasilkan keuntungan dari budidaya.

Kapan ayam dinyatakan berada di zona nyaman?

Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh peternak. Mulai dari masa brooding hingga ayam terpanen. Karna jika Peternak gagal dalam menjawab hal tersebut, maka kerugian akan membayangi Peternakan Anda.

Disinilah dibutuhkan ketelatenan dan perhatian penuh peternak terhadap ayamnya. Ayam akan selalu memberikan respon setiap harinya, disaat ayam merasa tidak nyaman. Saat suhu diatas kebutuhan ayam, ayam akan merspon dengan banyak minum. Sebaliknya jika suhu dibawah kebutuhan ayam, ayam akan merespon dengan banyak mengonsumsi pakan. Padahal yang dinginkan adalah ayam mengonsumsi pakan dan minum secara normal dan seimbang karna hanya dengan begitu ayam bisa bertumbuh optimal.

Kenali Sistem Pengaturan Suhu Tubuh Ayam

Hal inilah yang selalu gagal kita penuhi, karna kurangnya pemahaman tentang sistem pengaturan suhu tubuh ayam.  Jika, Anda perhatikan dengan baik tingkah laku dari ayam yang Anda pelihara, maka Anda akan sangat mudah mengatur suhu optimal yang dibutuhkan oleh ayam.

Sistem pengaturan suhu tubuh ayam ini bersifat homeotermik atau suhu tubuh ayam relatif stabil pada kisaran tertentu yaitu dikisaran 40-41oC.  Tapi, perlu diketahui bahwa ayam di umur 0-10 hari masih belum bisa mengatur suhu tubuhnya sendiri.  Oleh karena itu, peran operator kandang dalam memfungsikan brooder (pemanas) sangat penting untuk menjaga stabilitas suhu tetap dalam zona nyaman ayam.

Tabel 1.  Suhu dan Kelembaban Udara yang Nyaman Bagi Ayam Pedaging (Broiler)

Ayam Pedaging
Umur (hari) Suhu ( oC) Kelembaban (%)
1 29-32 60-70
3 27-30 60-70
6 25-28 60-70
9 25-27 60-70
12 25-26 60-70
>15 24-25 60-70

Sumber : Ross Manual Management, 2009 dan ISA Brown Manual Management (2007)

Selama ini, operator kandang hanya fokus pada pengukuran suhu melalui alat ukur thermometer.  Artinya peternak hanya mendapatkan data suhu.  Peternak tidak pernah mengukur kelembaban udara padahal kelembaban udara akan mempengaruhi suhu yang dirasakan ayam.  Hal ini disebabkan pengeluaran panas tubuh ayam dilakukan melalui panting.  Jadi, setelah Anda membaca tulisan ini Anda sudah harus memiliki alat pengukur suhu sekaligus pengukur kelembaban untuk menetapkan suhu nyaman yang dibutuhkan ayam.

Berikut dapat disaksikan dalam tabel 2 tentang keterkaitan antara suhu dan kelembaban ;

Tabel 2.  Pengaruh Kelembaban terhadap suhu yang dirasakan ayam

Suhu Efektif Kelemababan Kandang pada
yang  Thermohygrometer (%)
dirasakan 40% 50% 60% 70% 80%
Ayam Suhu kandang pada
(oC) Thermohygrometer (oC)
30 36 33,2 30,8 29,2 27
28 33,7 31,2 28,9 27,3 26
27 32,5 29,9 27,7 26 24
26 31,3 28,6 26,7 25 23
25 30,2 27,8 25,7 24 23
24 29 26,8 24,8 23 22

Sumber : Ross Manual Management (2009)

Terlihat pada tabel bahwa semakin tinggi kelembaban, suhu efektif yang dirasakan ayam juga semakin tinggi.  Sebaliknya, ayam akan merasakan suhu yang lebih dingin dibandingkan suhu lingkungan ketika kelembaban rendah.

 Untuk teman-teman yang ingin mendapatkan Ebook Beternak Sukses Ayam Broiler, dimana membahas lebih dalam mengenai tulisan ini, segera pesan di Mitra peternakan.

Cara meminimalisir masalah amoniak di kandang

Cara Mencegah Tingginya Kadar Amonia

Setelah kita mengetahui begitu banyak dampak negatif dari amonia, tentu kita sebagai peternak harus bisa mengendalikan kadar amonia di kandang. Tindakan yang dilakukan yaitu:

  • Cegah kejadian wet dropping (kotoran basah) atau diare karena amonia akan cepat terbentuk jika kondisi kotoran basah dan lembab. Cara pencegahannya yaitu dengan:
  1. Mengatasi kasus infeksi pencernaan (penyakit necrotic entritis, koksidiosis, colibacillosis, dll) yang menyerang ayam dengan segera
  2. Menyesuaikan asupan protein dan garam dalam ransum dengan kebutuhan ayam. Kadar garam yang terlalu tinggi di dalam ransum akan mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh sehingga kotoran ayam menjadi basah. Kadar garam yang tinggi juga akan memicu ayam mengkonsumsi air lebih banyak sehingga menyebabkan ayam mengalami diare. Demikian halnya dengan kadar protein yang terlalu tinggi. Hal ini terjadi karena sisa protein yang tidak tercerna akan diubah menjadi asam urat yang akan tinggi konsentrasinya di dalam ginjal sehingga akan memicu ayam minum lebih banyak. Akibatnya kotoran ayam pun menjadi basah dan encer.
  • Lakukan manajemen litter dengan baik:
  1. Pilih bahan litter yang berkualitas (kering, tidak berdebu, mampu menyerap air secara optimal) serta memasangnya dalam jumlah cukup (tidak terlalu tipis).
  2. Gunakan litter dengan ketebalan optimal, yaitu 8-12 cm untuk kandang postal dan 5-8 cm untuk kandang panggung. Hal ini bertujuan agar litter menjadi lebih kering dan bisa menjaga suhu hangat saat masa brooding.
  3. Untuk sistem pemeliharaan di kandang postal, pada litter bisa ditambahkan kapur. Penambahan kapur ini berfungsi membantu penyerapan air dan kelembaban udara. Penambahan kapur juga bermanfaat mencegah terjadinya koksidiosis karena koksidia (penyebab koksidiosis, red) tidak tahan terhadap panas dari kapur.
  4. Pada masa brooding, lakukan pembolak-balikan litter secara teratur setiap 3-4 hari sekali, mulai umur 4 hari sampai umur 17 hari. Hal ini untuk menghindari litter menggumpal sejak awal. Namun jika litter sudah terlanjur ada yang menggumpal dan jumlahnya sedikit, maka litter bisa dipilah dan dikeluarkan dari kandang. Namun jika jumlah litter yang menggumpal atau basah sudah banyak, lebih baik tambah litter baru hingga yang menggumpal tidak nampak.
  5. Jika litter sudah sangat lembab, ketika hendak ditambah litter baru sebaiknya ditaburi kapur terlebih dahulu agar cepat kering, setelah itu baru ditumpuk dengan litter yang baru.
  6. Perbaiki atap kandang yang bocor secepatnya dan hindari pekerjaan yang tergesa-gesa, terutama dalam mengganti air minum. Jangan sampai air tumpah ke litter. Pasang instalasi tempat minum dengan benar agar tidak terjadi kebocoran air.
  7. Atur kepadatan kandang, dimana kepadatan ayam yang ideal adalah 15 kg/m2 atau setara dengan 6-8 ekor ayam pedaging dan 12-14 ekor ayam petelur grower (pullet) per m2-nya. Saat awal (masa brooding) lakukan pelebaran sekat kandang secara teratur sesuai pertumbuhan ayam sampai seluruh kandang ditempati.
  8. Perhatikan sirkulasi udara dengan memperhatikan manajemen buka tutup tirai, mengatur jarak antar kandang, serta menambah penggunaan blower atau fan (kipas).
  9. Lakukan manajemen penanganan kotoran di kolong kandang dengan tepat agar kotoran ayam tidak lembab dan pembentukan amonia terhambat.

Pada dasarnya konsep penanganan kotoran di kolong kandang (pada kandang panggung dan kandang baterai, red) ada dua macam. Pertama, kotoran diambil secara periodik. Kedua, kotoran ayam dibiarkan menumpuk di kolong kandang sampai akhir periode pemeliharaan (satu siklus). Semuanya tergantung jenis ayam yang dipelihara (pedaging atau petelur), tinggi rendahnya kolong kandang, kondisi kotoran, dsb.

Untuk pemeliharaan ayam pedaging di kandang panggung, sebagian peternak memilih membiarkan kotoran menumpuk hingga satu siklus. Hal itu boleh-boleh saja dilakukan asalkan konstruksi kolong kandang dibuat tinggi. Kolong kandang yang tinggi akan menghasilkan kotoran yang lebih cepat kering dibandingkan kolong kandang yang konstruksinya pendek. Hal ini karena sirkulasi udaranya pasti lebih baik dan jangkauan sinar matahari ke kolong kandang juga bagus.

Sedangkan untuk pemeliharaan ayam petelur di kandang baterai atau panggung, sebaiknya peternak membersihkan kotoran secara periodik. Selain itu, jika kandang baterai dibuat lebar dengan lebih dari satu jalur (seperti kandang baterai yang disusun model “W” bukan “V”), maka kolong kandang baterai sebaiknya dibuat tinggi. Standarnya di atas 1,5 m.

Peternak ayam petelur juga bisa memasang amben (para-para) untuk membantu pengeringan kotoran ayam yang jatuh ke kolong kandang. Amben adalah tempat penampungan sementara kotoran ayam sebelum jatuh ke tanah dasar kolong. Amben dibuat dari bilah bambu, dipasang 90-100 cm di atas dasar kolong. Mekanismenya, kotoran dibiarkan berada di amben selama seminggu. Setelah itu amben dibalik sehingga kotoran yang hampir kering jatuh ke dasar kolong. Kotoran ayam dari amben tidak otomatis jatuh saat dibalik. Perlu digaruk dengan sekop agar amben bersih kembali. Meski amben tidak 100% menghilangkan keberadaan larva dari kotoran ayam, tetapi amben sangat membantu mengeringkan kotoran ayam.

Cara lain agar kotoran ayam di kolong cepat kering, peternak bisa menambahkan kapur halus sebelum dikeruk. Hindari menyimpan berkarung-karung kotoran di dekat kandang karena lama-kelamaan larva lalat akan berkembang di dalamnya sehingga suatu saat peternak harus mengeluarkan feses karungan tadi untuk dijemur ulang kembali. Selain itu, kotoran yang ditumpuk di bawah/samping kandang bisa menjadi sumber penularan penyakit. Secara umum, kotoran kering lebih menguntungkan bagi peternak ketimbang kotoran basah. Kotoran kering mudah/ringan saat dikeruk/dibersihkan. Hal ini tentu akan meringankan pekerjaan pegawai kandang.

Menurunkan Kadar Amonia

Jika di atas kita sudah membahas kiat-kiat mencegah tingginya kadar amonia, maka sekarang kita perlu tahu langkah-langkah apa saja yang harus diambil apabila amonia sudah tercium menyengat di dalam kandang. Caranya yaitu dengan mengatur sirkulasi udara (membuka tirai kandang), menambah sekam baru (untuk kandang postal), memberi kapur kemudian mengeruk kotoran ayam (untuk kandang panggung), dan menggunakan bahan tertentu yang mampu bekerja mengikat amonia. Salah satu produk yang mengandung bahan pengikat amonia adalah Ammotrol.

Ammotrol aman digunakan setiap hari dalam jangka waktu lama untuk mengikat amonia tanpa menimbulkan efek samping dan residu. Pemberian Ammotrol juga relatif mudah, cukup disemprotkan ke kotoran atau dilarutkan dalam air minum, serta bisa diberikan bersamaan/dicampur dengan vitamin atau antibiotik.
Berdasarkan hasil trial, dilaporkan Ammotrol terbukti efektif menurunkan kadar amonia dalam kandang (Grafik 3). Dengan kandungan senyawa glycocomponent di dalam ekstrak herbal Ammotrol, amonia yang diproduksi di dalam saluran pencernaan maupun yang ada di kotoran bisa diikat dengan baik sehingga tidak menguap dan mencemari udara kandang. Turunnya kadar amonia ini diikuti pula dengan penurunan angka kejadian penyakit ngorok/CRD, sementara pada kelompok kontrol ditemukan ayam dengan gejala klinis ngorok (Tabel 2).

Dari seluruh bahasan di atas bisa kita disimpulkan bahwa kualitas udara sangat mempengaruhi kondisi lingkungan dunia secara luas serta mengganggu kenyamanan hidup ayam di dalam kandang. Jika kualitas udara baik, maka ayam pun bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik. Demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, peternak wajib mengurangi konsentrasi gas amonia yang mampu menurunkan kualitas tersebut.

Sumber : info.medion.co.id

Kurangnya perhatian pada manajemen penyebab CRD Kompleks

Perunggasan telah berkembang menjadi industri yang mampu memenuhi kebutuhan dunia akan protein hewani melalui produksi daging dan telur. Namun sayangnya perkembangan hasil produksi yang dicapai masih belum optimal, salah satunya akibat rutinnya berbagai penyakit menyambangi peternakan kita. Pada awal tahun 2011 ini kasus penyakit yang menimpa peternakan ayam di Indonesia diprediksikan masih didominasi oleh penyakit lama dan memang sudah sering menyerang ayam, salah satunya adalah CRD kompleks (Poultry Indonesia, 2010).

Sebagai sebuah industri yang sedang berkembang, hampir semua ayam dipelihara pada situasi kandang yang terlalu padat dengan kualitas udara yang rendah. Pada situasi demikian, kemungkinan besar hampir seluruh populasi ayam di kandang akan terinfeksi oleh M. gallisepticum (penyebab CRD) sehingga kondisi ayam akan terus menurun. Setelah daya tahan tubuh ayam menurun, infeksi oleh bakteri lain seperti Eschericia coli akan mudah berkembang dan CRD kompleks pun terjadi. Ditingkat peternak ayam pedaging, kasus CRD dan CRD kompleks merupakan kasus teratas yang sering dijumpai, namun berdasar pada pola pemeliharaan ayam pedaging yang terlalu singkat dan kasus CRD kompleks yang sudah sering terjadi berulang di farm, maka kehadiran penyakit ini kurang diekspos oleh peternak.

Eksistensi Mycoplasma gallisepticum di saluran pernapasan

Penyakit ngorok atau CRD pada ayam merupakan suatu penyakit yang menyerang saluran pernapasan dimana sifatnya kronis. Disebut “kronis” karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama dan sulit untuk disembuhkan. Penyebab utamanya adalah M. gallisepticum, yang salah satu gejala khas dari penyakit ini adalah ngorok, sehingga peternak lebih umum menyebutnya dengan penyakit ngorok.

Saluran pernapasan ayam secara alami dilengkapi dengan pertahanan mekanik. Permukaannya dilapisi mukosa dan terdapat silia (bulu-bulu getar) serta mukus yang berfungsi menyaring udara yang masuk. M. gallisepticum sering terdapat di saluran pernapasan ayam ini, masuk bersamaan dengan aliran udara yang sebelumnya telah terkontaminasi. Ketika memasuki saluran pernapasan ayam, agen penyakit ini menempel pada mukosa saluran pernapasan dan merusak sel-selnya. Adanya bakteri ini akan memicu terjadinya radang dan aliran darah di daerah tersebut menjadi meningkat. Bakteri akan ikut aliran darah dan menuju kantung udara, dimana kantung udara merupakan tempat yang cocok untuk M. gallisepticum hidup dan berkembang biak.

Struktur bakteri M. gallisepticum

Struktur bakteri M. gallisepticum

(Sumber : www.scribd.com)

Struktur bakteri E. coli
Struktur bakteri E. coli
(Sumber : www.scribd.com)

M. gallisepticum merupakan bakteri Gram (-) berbentuk polimorfik kokoid dan tidak memiliki dinding sel sehingga bakteri ini mudah pecah/mati oleh desinfektan, panas, sinar matahari dan faktor lainnya. Pola serangan yang ditimbulkan oleh CRD tergolong lambat. Ketika ayam mulai terjangkit M. gallisepticum, infeksi tersebut akan berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama. Selama beberapa minggu bakteri akan tetap menetap dalam saluran pernapasan dan baru bekerja menginfeksi secara akut ketika ayam mengalami stres.

M. gallisepticum menimbulkan masalah serius pada ayam pedaging dimana bakteri tersebut sering bekerja sinergis dengan agen infeksi lain seperti E.coli. E. coli adalah bakteri yang hampir ditemukan pada semua tempat, terlebih pada tempat-tempat yang kotor. Colibacillosis memang penyakit yang identik dengan kebersihan. Semakin kotor lingkungan peternakan maka colibacillosis akan semakin tinggi tingkat kejadiannya. Oleh karena itu colibasillosis sangat bergantung pada pelaksanaan manajemen peternakan. Tingkat kematian akibat colibacillosis bisa mencapai 10%. Timbulnya CRD yang menyerang saluran pernapasan, akan semakin membuka kesempatan bagi bakteri lain seperti E.coli untuk ikut menginfeksi ayam sehingga terjadilah CRD kompleks. CRD kompleks merupakan gabungan/komplikasi penyakit antara CRD dan colibacillosis.

Perkembangan Kasus CRD Kompleks di Indonesia dan Dampak Serangannya

Sebagai penyakit tunggal, CRD pada ayam dewasa jarang sampai menimbulkan kematian, meskipun angka kesakitannya cukup tinggi. Dari data yang dikumpulkan oleh tim Technical Service Medion sepanjang tahun 2010, CRD kompleks masih menduduki posisi teratas dalam ranking penyakit 2010 yang menyerang ayam pedaging. Sedangkan pada ayam petelur, penyakit CRD kompleks berada diposisi 7 ranking penyakit.

Jika dilihat dari umur serangan, maka pada ayam pedaging CRD kompleks sering menyerang di umur 22-28 hari (minggu ke-3 pemeliharaan), sedangkan pada ayam petelur pada umur < 22 minggu (Technical Service Medion, 2010). CRD kompleks biasanya muncul di farm saat pemeliharaan menginjak minggu ketiga, hal ini terkait dengan penurunan kualitas litter dan manajemen tutup kandang yang kurang optimal.

Tabel 1. Ranking penyakit tahun 2010 pada ayam pedaging dan petelur

Ranking penyakit tahun 2010 pada ayam pedaging dan petelur

(Sumber : Data Technical Service Medion, 2010)

Penularan CRD kompleks bisa terjadi baik secara vertikal maupun horizontal. Secara vertikal dapat melalui induk yang menularkan penyakit melalui telur dan secara horizontal disebarkan dari ayam yang sakit ke ayam yang sehat, baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Penularan tidak langsung dapat melalui kontak dengan tempat peralatan, tempat makan dan minum, hewan liar/vektor maupun petugas kandang. Ayam muda biasanya memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap penyakit dibandingkan ayam dewasa, sehingga CRD kompleks juga dapat menyerang ayam umur muda dengan persentase serangan 6,29% (Technical Service Medion, 2010).
Tabel 2. Umur serangan CRD kompleks pada ayam pedaging

Umur serangan CRD kompleks pada ayam pedaging

(Sumber : Data Technical Service Medion, 2010)

CRD kompleks dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Timbulnya CRD kompleks di farm saat cuaca fluktuatif bisa menyebabkan kematian hingga 30%. Sedangkan kematian pada ayam kecil berkisar 5-10%. Yang paling tidak disukai peternak adalah penurunan produksi telur dan konversi ransum yang meningkat hingga 10-20%. Dampak lainnya antara lain pertumbuhan bobot badan terhambat, penurunan mutu karkas, penurunan produksi telur, tidak tercapainya keseragaman bobot badan serta banyaknya ayam yang harus diafkir. Adanya gangguan pada sistem pernapasan akibat infeksi CRD komplek, akan menyebabkan asupan oksigen berkurang dan proses metabolisme tubuh akan terganggu sehingga pertumbuhan ayam pun terhambat dan efisiensi ransum menjadi jelek.

Tabel 3. Umur serangan CRD kompleks pada ayam petelur

Umur serangan CRD kompleks pada ayam petelur

(Sumber : Data Technical Service Medion, 2010)

CRD kompleks juga dapat menyebabkan kegagalan vaksinasi karena dapat pula berkolaborasi dengan agen immunosupresi (menekan kekebalan). Sistem pernapasan merupakan pintu gerbang pertahanan primer tubuh karena di dalamnya terdapat jaringan mukosa bersilia yang berfungsi menangkap partikel asing yang masuk melalui saluran pernapasan. Tidak berfungsinya sistem pertahanan primer terutama pernapasan menjadi pemicu utama masuknya agen penyakit lain seperti virus penyebab IB dan ND. Virus yang menyerang sebelum vaksinasi akan menghambat sistem kekebalan tubuh dalam memproduksi antibodi sehingga kemungkinan hasil vaksinasi yang akan dilakukan selanjutnya akan gagal karena kondisi ayam sudah menurun.

Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi (faktor pemicu munculnya penyakit,red) CRD kompleks diantaranya sistem pemeliharaan dengan suhu terlalu panas atau dingin, kelembaban tinggi, kurangnya ventilasi, litter terlalu lembab, kadar amonia tinggi, kepadatan ternak terlalu tinggi dan cara pemeliharaan dengan berbagai umur dalam satu lokasi peternakan. Faktor-faktor tersebut sebagian akan mempengaruhi kualitas udara di dalam kandang. Banyaknya partikel debu di udara akan mengganggu kerja saluran pernapasan.

Ditambah dengan konsentrasi amonia yang meningkat dan akhirnya terhirup akan mengiritasi saluran pernapasan ayam dan merusak silia pada jaringan mukosa. Sel-sel yang ada dipermukaan saluran pernapasan menjadi rusak, sehingga mekanisme awal pertahanan tubuh menjadi terganggu dan agen penyakit seperti M. gallisepticum yang terbawa udara akan mudah sekali menempel dan akhirnya menimbulkan infeksi dan kerusakan yang lebih parah.

Stres juga merupakan salah satu faktor predisposisi dari CRD kompleks. Ayam yang sebelumnya telah terserang CRD, saat daya tahan tubuhnya menurun ketika stres maka infeksi lain seperti colibacillosis akan mudah menyerang sehingga status penyakit meningkat menjadi CRD kompleks. Hal-hal yang dapat menyebabkan stres pada ayam diantaranya pelaksanaan potong paruh, vaksinasi, kedinginan, heat stress, pengangkutan dan ventilasi yang buruk.

Gejala Klinis dan Perubahan Patologi Anatomi

Jika M. gallisepticum menginfeksi ayam tanpa komplikasi, maka gejala klinis tidak akan terlihat. Namun karena ada faktor lain seperti E. coli akan menyebabkan saluran pernapasan akan lebih teriritasi dan gejala klinis pun akan mulai terlihat. Gejala klinis dari CRD kompleks pada ayam umur muda (DOC dan pullet) sering terlihat gejala sakit pernapasan, menggigil, kehilangan nafsu makan, penurunan bobot badan dan peningkatan rasio konversi ransum. Anak ayam lebih sering terlihat bergerombol di dekat pemanas brooder. Pada ayam dewasa kadang-kadang terlihat ingus keluar dari hidung dan air mata, sulit bernapas, ngorok, dan bersin. Pada ayam petelur bisa terjadi penurunan telur hingga 20-30%.

Serangan CRD pada ayam muda

Serangan CRD pada ayam muda (Sumber : www.fao.org)

Kantung udara keruh

Kantung udara keruh (a) dan berbusa (b)
(Sumber : www.kashvet.org)

Perubahan pada bedah bangkai ditemukan peradangan pada saluran pernapasan bagian atas (laring, trakea, bronkus), paru-paru berwarna kecoklatan, kantung udara tampak adanya lesi yang khas (keruh dan menebal) serta pembentukan jaringan fibrin pada selaput hati (perihepatitis) dan selaput jantung (pericarditis) dan perkejuan di organ dalam (komplikasi colibacillosis).

Menelaah Manajemen Pemeliharaan Penyebab Timbulnya CRD kompleks serta Cara Penanganannya
Meskipun keterlibatan M. gallisepticum dalam kasus CRD yang diamati cukup tinggi (>50%), namun infeksi kompleks umumnya juga melibatkan faktor lain yang terkait dengan tatalaksana pemeliharaan. Oleh sebab itu, mengandalkan penggunaan antibiotik sebagai satu-satunya senjata dalam menghadapi masalah CRD kompleks sangat tidak bijaksana.

Perihepatitis dan pericarditis
Perihepatitis dan pericarditis
(Sumber : www.kashvet.org)

Selaput lendir pada trakea, bengkak dan berwarna merah

Selaput lendir pada trakea, bengkak dan berwarna merah
(Sumber : Dok. Medion)

Sebenarnya M. gallisepticum sangat mudah mati, terutama oleh temperatur lingkungan yang tinggi, kadar O2 tinggi, kelembaban relatif rendah dan juga beberapa desinfektan maupun antiseptik. Namun, pada kandang dengan ventilasi dan sanitasi jelek, kondisi ini justru dapat membuat Mycoplasma dapat bertahan lama hidup di udara. M. gallisepticum ketika berada dalam saluran pernapasan akan berkembangbiak dengan cepat, tetapi memiliki pola serangan yang lambat. Sisa metabolisme dan bangkai M. gallisepticum yang mati akibat terjadi perebutan tempat hidup dan makanan mengakibatkan kerusakan pada sel-sel permukaan saluran pernapasan. Kerusakan ini akan mempermudah terjadinya infeksi sekunder, sehingga muncul CRD kompleks.

Penyakit yang bersifat kompleks memang lebih sulit untuk ditangani. Hal ini kemungkinan karena kondisi lingkungan peternakan mulai jenuh, artinya konsentrasi bibit penyakit lebih tinggi dari periode sebelumnya. Diperparah dengan kondisi peternak yang belum menyadari sepenuhnya arti upaya penerapan biosecurity secara tepat dan menyeluruh di lokasi usaha peternakannya. Penerapan manajemen pemeliharaan dan biosecurity yang tidak tepat dan menyeluruh tersebut adalah :

1) Pelaksanaan masa istirahat kandang yang seharusnya minimal 14 hari tidak dilaksanakan. Beberapa kasus di lapangan, masa istirahat kandang lebih cepat, hanya 7 hari atau kurang dari 14 hari. Padahal kondisi ini tidak baik karena akan menyebabkan bibit penyakit seperti Mycoplasma selalu berada di lingkungan peternakan tersebut, akibatnya serangan penyakit akan selalu berulang. Tujuan dari istirahat kandang agar siklus bibit penyakit dapat dienyahkan dari lokasi peternakan.

Istirahat kandang minimal 14 hari

Istirahat kandang minimal 14 hari
(Sumber : Dok. Medion)

2) Sanitasi kandang tidak dilakukan secara sempurna, misalnya masih ada sisa-sisa feses di sela-sela lantai kandang. Sisa-sisa feses di sela-sela lantai kandang merupakan tempat yang nyaman bagi bibit penyakit untuk bertahan hidup. Sebaiknya peternak menggunakan air bertekanan tinggi untuk melenyapkan sisa-sisa feses tersebut. Contoh lain tidak dilakukannya desinfeksi secara rutin dll.

Pembersihan feses

Pembersihan feses
(Sumber : Dok. Medion)
3) Sistem pemeliharaan tidak diterapkan secara all in all out juga akan membawa dampak serangan penyakit yang selalu berulang
4) Program pemberian obat yang dilakukan secara tidak tepat juga turut ikut bagian dalam menyebabkan bandelnya kasus penyakit. Pemberian obat yang secara terus menerus dengan dosis yang kurang tepat dapat mempercepat terjadinya resistensi terhadap obat tertentu

Pencegahan dan Pengendalian
Prinsip pencegahan dan pengendalian penyakit CRD kompleks terdiri dari 3 aspek yang harus diterapkan, dimana aspek tersebut antara lain :

1) Menciptakan lingkungan kandang yang nyaman

Tindakan yang dilakukan seperti memperbaiki sirkulasi udara di dalam kandang dengan manajemen buka tutup tirai, menjaga agar populasi ayam di kandang tidak terlalu padat, beri pemanas yang cukup pada DOC selama masa brooder, membersihkan litter dari feses dan mencegah litter basah untuk meminimalkan produksi ammonia yang berlebihan. Litter yang basah akan memacu timbulnya penyakit gangguan saluran pernapasan dan pencernaan, karena di litter banyak berkembang bakteri, virus dan parasit.

2) Mempertahankan kondisi ayam agar tetap sehat

Hal utama yang diusahakan dalam menjaga kondisi ayam tetap sehat adalah menghindari faktor stres. Faktor penyebab stres antara lain agen penyakit, lingkungan yang tidak nyaman dan tata laksana pemeliharaan yang tidak baik. Berikan mulvitamin  untuk meningkatkan stamina tubuh ayam.

3) Melaksanakan biosecurity yang ketat

Adapun penerapan biosecurity tersebut antara lain dengan memperbaiki tata laksana kandang, melakukan sanitasi dan desinfeksi di areal lingkungan kandang menggunakan Formades atau Sporades, melakukan sanitasi air minum yang baik menggunakan Antisep, Neo Antisep atau Desinsep untuk membunuh E. coli yang terdapat dalam air minum, melakukan pengafkiran pada ayam yang terinfeksi dan kondisinya sudah parah, kosongkan kandang minimal 14 hari setelah kandang dibersihkan dan pengontrolan lalu lintas dengan mengontrol kendaraan yang keluar masuk lokasi peternakan.

Langkah pengendalian terakhir dalam mengatasi CRD kompleks yaitu mengambil tindakan pengobatan dengan antibiotik. Salah satu prinsip pengobatan yaitu obat harus sesuai dengan jenis penyakit yang menyerang. Setiap obat memiliki efek yang berbeda dan spesifik untuk setiap penyakit. Bagaimanapun baiknya cara pemberian obat, tetapi bila kita salah dalam memilih jenis obat, maka tidak akan diperoleh efek pengobatan yang diinginkan. Dalam melakukan pengobatan CRD kompleks menggunakan antibiotik, perlu diketahui bahwa M. gallisepticum tidak dapat dibunuh dengan antibiotik yang bekerja dengan cara merusak atau menghambat pembentukan dinding sel bakteri.

Penanganan untuk M. gallisepticum yaitu dengan memberikan antibiotik yang bekerja pada membran dan inti sel, terutama yang aktif menghambat pembentukan asam folat dan protein bakteri M. gallisepticum serta mempunyai konsentrasi tinggi di tempat bakteri tersebut berada (saluran pernafasan), bukan yang berkonsentrasi tinggi di dalam darah. Sedangkan bakteri E. coli merupakan bakteri Gram (-) yang hampir bisa dilawan oleh hampir semua golongan antibiotik kecuali golongan makrolida. Contoh produk yang dapat digunakan untuk membasmi CRD kompleks antara lain Doctril, Neo Meditril, Doxytin, Respiratrek, Trimezyn atau Gentamin. Pilih salah satu obat CRD kompleks tersebut dan berikan sesuai dengan dosis dan aturan pakai yang tertera pada etiket atau leaflet produk. Lakukan atau penggantian antibiotik yang dipilih setiap 3-4 periode pemeliharaan untuk mencegah terjadinya resistensi obat.

CRD kompleks merupakan penyakit yang terutama dipicu oleh penerapan manajemen pemeliharaan dan biosecurity yang kurang disiplin. Pengobatan bukan satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi penyakit ini, melainkan mencakup seluruh aspek pemeliharaan. Antisipasi peternak untuk mencegah CRD kompleks dapat diawali dengan menemukan titik lemah manajemen yang selama ini telah diterapkan sehingga peternak mengetahui kesalahan manajemen apa yang memacu timbulnya CRD kompleks yang selalu datang setiap tahun. Salam sukses selalu.

Sumber : info.medion.co.id

%d blogger menyukai ini: