Mitra Peternakan

Ketahui penyebab kekerdilan pada ayam broiler

Ayam kerdil seringkali ditemukan di peternakan ayam broiler, dimana kejadiannya ditemukan antara 5%-20% dari total populasi ayam broiler yang dipelihara.

kerdil

Penyebab Ayam kerdil

Ayam kerdil atau Sindrom kekerdilan (slow growth syndrome) atau yang disebut juga dengan runting stunting syndrome (RSS) adalah salah satu sindrom yang dialami oleh sekelompok ayam (terutama ayam broiler) yang ditandai dengan gangguan pertumbuhan di umur 4-21 hari.  Pada kasus ini, bobot badan ayam terlihat lebihkecil, ±40% dibawah bobot badan normal.  TIngkat kejadiannya pun di dalam satu populasi sangat bervariasi sekitar 5-40% (Nick Dorko, 1997).  Hidayat (2014) menyatakan bahwa sindrom kekerdilan ini dibagi menjadi beberapa kategori, anatara lain :

Kejadian sindrom kerdil di lapangan terkadang dibgai lagi menjadi 2 kelompok, yaitu jika dalam 5 minggu bobot ayam kurang dari 200 gram per ekornya, maka dikategorikan sebagai kasus “runting”.  Sedangkan bila bobotnya lebih dari 200 gram, namun kurang dari 1 kg, maka dikategorikan sebagai kasus “stunting”.

Dari laporan kasus yang ada, kasus runting biasanya tidak lebih dari 5% (biasanya berkisar 3-5%), sedangkan pada kelompok stunting angkanya bisa mencapai 50% (dalam kisaran 5-50%). Variasi pada kasus stunting ini biasanya dikaitkan dengan manajemen pemeliharaan. Pada peternakan dengan manajemen yang baik, biasanya persentase kasus stunting relatif kecil.

Lalu apa saja penyebab sindrom kekerdilan atau RSS ini?

1) Faktor dari pembibitan

2) Faktor dari penetasan (hatchery)

3) Manajemen pemeliharaan yang belum baik dan pengaruh lingkungan

Contohnya akibat biosecurity yang belum ketat, penanganan DOC yang kurang baik terutama saat masa brooding, populasi kandang yang terlalu padat, suhu kandang terlalu tinggi, tempat ransum kurang (tidak sebanding dengan jumlah ayam), dan lain sebagainya.

4) Faktor kualitas ransum

Kandungan nutrisi seperti energi, protein, dan mikro nutrisi lainnya jika tidak sesuai dengan kebutuhan ayam, maka bisa memicu kasus kekerdilan ini. Demikian halnya dengan jamur (aspergillosis) dan racunnya (mikotoksikosis) yang akhir-akhir ini banyak mengkontaminasi ransum.

5) Faktor penyakit infeksius

Secara umum, 3 agen infeksius penyebab kekerdilan adalah virus, bakteri dan protozoa.

Virus:

Salah satu virus yang sudah diidentifikasi menjadi penyebab utama kekerdilan adalah Reo-virus. Saat menginfeksi, virus ini menimbulkan enteritis (radang usus) sehingga penyerapan nutrisi di usus menurun. Pada anak ayam umur 2-4 hari yang menderita serangan Reo-virus akan menunjukkan gejala sakit yang ringan, yakni anak ayam terlihat lesu, malas bergerak, dan sayap menggantung. Sedangkan pada anak ayam umur 4-7 hari ditemukan pula gejala diare. Pada feses ayam sakit akan ditemukan ransum yang tidak tercerna. Sering dijumpai pula feses yang tertutup dengan eksudat berwarna coklat kekuningan. Akibatnya kasus ini sering dikelirukan dengan koksidiosis. Tanda-tanda spesifik lainnya yang ditemui yakni pertumbuhan bulu yang abnormal pada bulu sayap primer (yang berbatasan dengan folikel bulu). Pertumbuhan bulu juga tidak teratur sehingga menyebabkan bulu-bulu tampak berdiri seperti baling-baling dan menimbulkan kesan ayam tampak seperti helikopter. Itulah sebabnya serangan Reo-virus sering disebut juga dengan helicopter disease. Saat dibedah, ditemukan usus yang terlihat pucat, kecil dan di dalamnya masih terdapat sisa-sisa ransum yang belum tercerna sempurna. Kita seringkali memberi istilah “usus pentil” karena ususnya yang kecil ini. Beberapa virus lain yang juga dikaitkan dengan kasus kekerdilan adalah infeksi rotavirus, parvovirus, dan calicivirus.

Bakteri:

Bakteri yang paling umum menyebabkan kekerdilan adalah bakteri Clostridium sp. yang bisa menyebabkan necrotic enteritis dan necrotic ulseratif pada usus ayam.

Protozoa:

Infeksi protozoa yang utama bisa menyebabkan kekerdilan akibat efek malabsorpsi (gangguan penyerapan ransum)nya adalah infeksi koksidiosis.

Penanganan Kasus Kekerdilan

Hingga saat ini, kasus kekerdilan adalah salah satu kasus yang cukup sulit didiagnosa. Alasannya, karena gejala klinis yang terlihat hanya berupa gangguan pertumbuhan (kekerdilan). Pada saat nekropsi (bedah bangkai) pun perubahan patologi anatomi yang ditimbulkan sangatlah bervariasi, tergantung dari faktor penyebab mana yang lebih mendominasi.

Atas pertimbangan tersebut, maka saat peternak menemukan kasus ini di farm, beberapa tindakan yang bisa dilakukan antara lain:

Sumber : info.medion.co.id

Exit mobile version